السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Hari ini aku menulis di depan sebuah kolam, di sebuah rumah yang letaknya sangat jauh dari rumahku. Terdengar suara gemericik air yang jatuh ke kolam, dengan lima ekor kura-kura yang berenang tenang di dalamnya. Sebuah tempat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tempat yang baru dua kali kukunjungi dan masih terasa asing, namun perlahan harus kubiasakan—karena ke depannya, inilah yang akan menjadi rumah ketigaku.
Ya, ini adalah rumah suamiku. Rumah tempat ia menghabiskan masa kecilnya. Masih terdengar sedikit aneh bagiku menyebut kata “suami”. Maklum, baru sebulan lebih lima hari aku resmi menjadi pasangan suami istri dengannya.
Aku masih sering merasa takjub dengan jalan Allah yang menyatukan kami. Jika kamu sudah membaca postinganku ini, mungkin kamu sudah tahu bagaimana cerita kami bisa sampai pada titik ini. Tapi begitulah Allah. Dia memiliki rencana untuk hamba-Nya—rencana yang sering kali tak pernah terpikirkan oleh kita sendiri. Dan Dia akan membuka rencana itu di waktu yang tepat, menurut-Nya, bukan menurut kita.
Saat ini, aku masih meraba-raba bagaimana menjadi seorang istri yang baik. Belajar menyeimbangkan peranku di rumah dan di pekerjaanku. Di saat yang sama, aku juga masih menjadi seorang anak bagi ayahku—dan peran itu pun harus tetap kujalani dengan sebaik-baiknya.
Banyak hal yang masih kupelajari. Aku masih mencari tahu bagaimana menjalani semua peran ini dengan adil, tanpa ada yang dikalahkan atau terzalimi. Meski aku sadar, pasti akan ada masa di mana satu peran menuntut perhatian lebih, sehingga peran lainnya sedikit terpinggirkan—bukan dilupakan, hanya tertunda.
Semua kembali pada prioritas. Ada kalanya pekerjaanku membutuhkan perhatianku lebih, dan di saat seperti itu aku mencoba menjelaskan kondisiku kepada suamiku dan ayahku. Ada kalanya justru suamiku yang lebih membutuhkanku, atau ayahku yang memerlukan kehadiranku. Pada momen-momen seperti itu, aku akan menjelaskan kepada pihak lainnya. Aku percaya, selama disampaikan dengan baik, mereka akan bisa memahami posisiku.
Jika kamu bertanya, mengapa aku masih memilih untuk bekerja setelah menikah? Mengapa aku tidak langsung menjadi full-time wife saja (I hope to be a mom soon, aamiin)?
Jawabannya sederhana: karena aku masih ingin berbakti kepada ayahku. Aku ingin tetap bisa memberikan bulanan untuknya dan membantu membiayai kebutuhannya. Mungkin suatu hari nanti aku akan berhenti bekerja, terutama ketika aku sudah memiliki anak. Namun sebelum itu, aku ingin memastikan bahwa kebutuhan ayahku tetap bisa tercukupi. Dengan begitu, aku bisa menjalani peranku sebagai ibu sepenuhnya, dengan hati yang lebih tenang.
Aku terdiam sejenak. Menghela napas panjang, membiarkan pikiranku berhenti berlari. Duduk di sini, di rumah yang masih terasa asing namun perlahan menjadi akrab, aku menyadari satu hal: begitu banyak hal yang sebenarnya patut kusyukuri.
I feel so blessed.
Aku sangat bersyukur kepada Allah atas semua yang telah Dia berikan kepadaku. Meski tak jarang aku masih mengeluh, terutama ketika pekerjaanku terasa begitu mencekik. Namun di balik itu, aku tetap bersyukur—karena aku masih diberi pekerjaan yang halal dan penghasilan darinya.
Aku bersyukur masih diberi kesehatan, dengan kelengkapan anggota tubuh yang berfungsi dengan sangat baik. Aku bersyukur ayahku masih sehat, bahkan jauh lebih aktif dibandingkan diriku. Aku bersyukur memiliki suami yang tidak menuntutku menjadi sosok “istri ideal” menurut standar orang-orang—yang harus selalu memasak setiap hari, tinggal di rumah, dan mengabdikan seluruh waktunya hanya untuk melayani suami.
Aku masih diberi ruang untuk diriku sendiri. Masih memiliki me time. Masih diberi pengertian ketika, dalam kondisi tertentu, aku harus membawa pulang pekerjaanku ke rumah. Aku sangat bersyukur masih bisa makan dengan layak, tinggal di rumah yang layak, dan mengenakan pakaian yang layak.
Alhamdulillah.
Dari semua ini, aku belajar satu hal: hidup bukan tentang menjalani peran dengan sempurna, melainkan tentang menjalaninya dengan penuh kesadaran. Maka aku ingin perlahan mengurangi keluhanku. Aku ingin lebih banyak bersyukur, menikmati waktu demi waktu, dan memanfaatkan setiap kesempatan sebaik mungkin.
Aku tahu, ke depan masih akan ada hari-hari yang melelahkan. Akan ada peran-peran yang saling tarik-menarik, keputusan yang tak selalu mudah, dan doa-doa yang belum langsung terjawab. Namun hari ini, di tempat ini, aku memilih untuk berhenti sejenak.
Semoga aku selalu diingatkan—bahwa di setiap fase hidupku, selalu ada alasan untuk bersyukur. Semoga aku selalu melibatkan Allah di setiap langkahku, dan selalu sadar bahwa aku tidak pernah benar-benar sendiri. Bahkan di saat aku secara fisik sendiri, aku tetap tidak sendiri.
Aku ingin selalu ada ruang di hatiku untuk memahami rencana Allah, terutama ketika rencana itu tidak berjalan sesuai dengan harapanku. Agar rasa syukur ini tidak mudah pudar, dan tidak tergantikan oleh rasa kecewa.
Karena aku yakin, Allah jauh lebih mengerti apa yang terbaik untukku—kapan waktu yang paling tepat, dan bagaimana cara yang paling baik untuk menjadikannya nyata
Pagaden, 18 Januari 2026
Tanggal asli postingan ini, entah kenapa di blog malah H-1
