السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Terkadang, Allah menulis cerita cinta dengan cara yang tak pernah kita duga. Ia tidak selalu datang lewat tatapan pertama, bukan pula melalui kata-kata manis yang diucapkan tergesa. Ada kisah yang justru dimulai dengan niat baik, diperjalankan dengan doa, dan dijaga dengan kesungguhan hati.
Ini bukan kisah cinta yang berawal dari rayuan, tapi dari keyakinan. Tentang dua orang yang sama-sama mencari ketenangan, lalu dipertemukan di waktu yang paling tepat, bukan karena kebetulan, tapi karena kehendak-Nya.
Dan begitulah, langkah kecil di suatu malam bulan Juni itu perlahan menuntun kami pada takdir yang telah ditulis sejak lama.
Sebuah Awal yang Ditetapkan dengan Tenang
Pada 18 Juni 2025, sebuah ajakan makan malam dari seorang teman terdengar biasa bagi Cindhi. Ia menerima tanpa banyak pikir, apalagi restoran yang dipilih menyediakan salah satu makanan favoritnya. Namun siapa sangka, malam itu justru menjadi awal dari cerita baru dalam hidupnya.
Di tengah obrolan santai, emannya berkata dengan hati-hati,
“Sebenarnya aku ngajak kamu makan karena mau ngenalin kamu ke adikku, namanya Sagi. Nggak perlu pacaran, temenan aja dulu.”
Cindhi terdiam sejenak, lalu menjawab,
“Aku nggak mau pacaran atau hubungan yang nggak jelas. Kalau adik Mas serius mau menikah, lebih baik kita taaruf aja.”
Ucapannya sederhana, tapi tulus. Ia tak menyangka bahwa kalimat itu akan membuka jalan menuju kisah yang lebih besar.
Beberapa hari berselang, Sagi menyetujui usulan itu. Pada 28 Juni 2025, keduanya bertukar CV sebagai langkah awal taaruf. Dari lembar-lembar singkat yang berisi kisah hidup dan harapan masa depan, mereka mulai mengenal satu sama lain, bukan dari janji manis, tapi dari kejujuran dan niat baik.
Kemudian, pada 5 Juli 2025, Cindhi dan Sagi bertemu untuk pertama kalinya. Pertemuan itu berlangsung dalam suasana hangat dan sopan, ditemani oleh teman Cindhi dan suaminya. Mereka berbincang tentang kehidupan, keluarga, dan pandangan mereka terhadap pernikahan. Tidak ada kesan tergesa, tidak pula basa-basi, hanya dua orang yang saling membuka diri dengan hati-hati dan tulus.
Setelah beberapa kali berdiskusi, Cindhi dan Sagi sama-sama merasa mantap. Mereka menemukan banyak kesamaan cara pandang dan tujuan hidup. Waktu berjalan, hingga 30 Agustus 2025, Sagi datang menemui ayah Cindhi untuk berkenalan sekaligus menyampaikan niat baiknya. Dengan ramah, sang ayah menerima kehadirannya dan berkata, “Kalau memang serius, minggu depan ajak ibumu ke sini untuk meminta izin secara resmi.” Ucapan itu menjadi tanda restu awal dari keluarga.
Seminggu kemudian, tepat 6 September 2025, Sagi menepati janjinya. Ia datang bersama ibunya, membawa niat tulus untuk melamar Cindhi. Pertemuan itu berlangsung sederhana namun sarat makna, penuh kehangatan dan rasa syukur, menjadi awal dari perjalanan baru yang lebih besar.
Hari-hari berikutnya diisi dengan doa dan persiapan. Banyak hal yang mereka pelajari dari satu sama lain. Koordinasi yang cukup intens untuk mempersiapkan acara besar mereka dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab. Meski lelah, penat, letih, dan stres sering datang, ditambah tekanan pekerjaan serta tanggung jawab lainnya, mereka tetap berusaha menjalani semuanya dengan baik. Dari proses itu, mereka semakin mengenal satu sama lain: bagaimana harus bersikap, bagaimana cara pandang masing-masing menghadapi masalah dan tekanan.
Epilog
Setiap langkah yang kami lalui bukan selalu mudah. Ada lelah, ada air mata, ada ragu yang datang tanpa diundang. Namun di antara semua itu, ada satu hal yang tak pernah hilang, keyakinan bahwa setiap hal yang dijalani dengan niat baik akan selalu dijaga oleh Allah.
Kini, ketika kami menatap ke belakang, kami sadar bahwa perjalanan ini bukan sekadar tentang bertemu dan menikah. Ini tentang belajar memahami, menahan ego, bersabar, dan mempercayai rencana-Nya. Tentang bagaimana Allah mempertemukan dua hati yang sebelumnya asing, lalu menumbuhkan cinta perlahan, bukan dalam gegas, tapi dalam tenang.
Semoga kisah ini menjadi pengingat, bahwa cinta yang tumbuh dari doa akan selalu menemukan jalannya. Karena ketika niat kita lurus, dan tujuan kita sama, maka takdir pun akan bekerja dengan caranya yang paling indah.
