Still Waiting at the Platform



 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


I want to be honest about how I feel because I've been keeping this to myself, and I don't want it to turn into resentment. I'm not trying to start an argument or make you choose between me and your family. I just want you to understand why this situation hurts me.


I know I can never really "compete" with your brother when situations like this come up.

It reminds me of what happened three days before our wedding. Your brother asked you to pick him up from the airport and drive him out of town, even though we were busy preparing the rental house for your family who were coming from another city. We had so much to do, but in the end, I was the one who gave in.


And now, after we're married, it's happening again.

You were supposed to pick me up from the station, and we already had plans for tomorrow, including my pregnancy check-up and several other things we had arranged together. But when your brother called and asked for the same favor, you became torn between the two situations, and once again, I felt like I was the one expected to compromise.


I understand why it's difficult for you. I know you feel grateful to him because he played a big part in bringing us together, and because of that, saying no to him probably feels uncomfortable. I truly understand that.


But what I'm struggling to understand is how long this will continue.

Will I always be the one who has to step aside whenever your brother needs something from you?


I'm your wife, and right now I'm carrying our child. Yet sometimes it feels like even in moments when I genuinely need you, I still come after your brother's requests. That's a painful feeling to have.



I'm not asking you to stop helping him or to put distance between yourselves. I'm only asking whether there will ever be a time when you can tell him, "I can't this time, because I already have responsibilities and plans with my wife."


Can you do that, even just once?

Because what scares me is the thought that every time he asks for help, I'll always be the one who has to adjust, compromise, and give way.


I love you, and that's exactly why I'm telling you this. I don't want to keep these feelings bottled up. I just want us to talk honestly about where I stand in your list of priorities, especially now that we're building our own family together. I hope you can understand that this isn't coming from anger—it's coming from hurt, disappointment, and a need for reassurance from the person I trust the most.

Langkah yang Sedang Kupelajari



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Hari ini aku menulis di depan sebuah kolam, di sebuah rumah yang letaknya sangat jauh dari rumahku. Terdengar suara gemericik air yang jatuh ke kolam, dengan empat ekor kura-kura berdiam diri menikmati hangatnya matahari yang sejak tadi enggan muncul, sementara seekor lainnya berenang pelan di dinginnya air kolam. Sebuah tempat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tempat yang baru dua kali kukunjungi dan masih terasa asing, namun perlahan harus kubiasakan—karena ke depannya, inilah yang akan menjadi rumah ketigaku.


Ya, ini adalah rumah suamiku. Rumah tempat ia menghabiskan masa kecilnya. Masih terdengar sedikit aneh bagiku menyebut kata “suami”. Maklum, baru sebulan lebih lima hari aku resmi menjadi pasangan suami istri dengannya.




Aku masih sering merasa takjub dengan jalan Allah yang menyatukan kami. Jika kamu sudah membaca postinganku ini, mungkin kamu sudah tahu bagaimana cerita kami bisa sampai pada titik ini. Tapi begitulah Allah. Dia memiliki rencana untuk hamba-Nya—rencana yang sering kali tak pernah terpikirkan oleh kita sendiri. Dan Dia akan membuka rencana itu di waktu yang tepat, menurut-Nya, bukan menurut kita.


Saat ini, aku masih meraba-raba bagaimana menjadi seorang istri yang baik. Belajar menyeimbangkan peranku di rumah dan di pekerjaanku. Di saat yang sama, aku juga masih menjadi seorang anak bagi ayahku—dan peran itu pun harus tetap kujalani dengan sebaik-baiknya.


Banyak hal yang masih kupelajari. Aku masih mencari tahu bagaimana menjalani semua peran ini dengan adil, tanpa ada yang dikalahkan atau terzalimi. Meski aku sadar, pasti akan ada masa di mana satu peran menuntut perhatian lebih, sehingga peran lainnya sedikit terpinggirkan—bukan dilupakan, hanya tertunda.


Semua kembali pada prioritas. Ada kalanya pekerjaanku membutuhkan perhatianku lebih, dan di saat seperti itu aku mencoba menjelaskan kondisiku kepada suamiku dan ayahku. Ada kalanya justru suamiku yang lebih membutuhkanku, atau ayahku yang memerlukan kehadiranku. Pada momen-momen seperti itu, aku akan menjelaskan kepada pihak lainnya. Aku percaya, selama disampaikan dengan baik, mereka akan bisa memahami posisiku.

Jika kamu bertanya, mengapa aku masih memilih untuk bekerja setelah menikah? Mengapa aku tidak langsung menjadi full-time wife saja (I hope to be a mom soon, aamiin)?


Jawabannya sederhana: karena aku masih ingin berbakti kepada ayahku. Aku ingin tetap bisa memberikan bulanan untuknya dan membantu membiayai kebutuhannya. Mungkin suatu hari nanti aku akan berhenti bekerja, terutama ketika aku sudah memiliki anak. Namun sebelum itu, aku ingin memastikan bahwa kebutuhan ayahku tetap bisa tercukupi. Dengan begitu, aku bisa menjalani peranku sebagai ibu sepenuhnya, dengan hati yang lebih tenang.


Aku terdiam sejenak. Menghela napas panjang, membiarkan pikiranku berhenti berlari. Duduk di sini, di rumah yang masih terasa asing namun perlahan menjadi akrab, aku menyadari satu hal: begitu banyak hal yang sebenarnya patut kusyukuri.


I feel so blessed.


Aku sangat bersyukur kepada Allah atas semua yang telah Dia berikan kepadaku. Meski tak jarang aku masih mengeluh, terutama ketika pekerjaanku terasa begitu mencekik. Namun di balik itu, aku tetap bersyukur—karena aku masih diberi pekerjaan yang halal dan penghasilan darinya.


Aku bersyukur masih diberi kesehatan, dengan kelengkapan anggota tubuh yang berfungsi dengan sangat baik. Aku bersyukur ayahku masih sehat, bahkan jauh lebih aktif dibandingkan diriku. Aku bersyukur memiliki suami yang tidak menuntutku menjadi sosok “istri ideal” menurut standar orang-orang—yang harus selalu memasak setiap hari, tinggal di rumah, dan mengabdikan seluruh waktunya hanya untuk melayani suami.


Aku masih diberi ruang untuk diriku sendiri. Masih memiliki me time. Masih diberi pengertian ketika, dalam kondisi tertentu, aku harus membawa pulang pekerjaanku ke rumah. Aku sangat bersyukur masih bisa makan dengan layak, tinggal di rumah yang layak, dan mengenakan pakaian yang layak.


Alhamdulillah.


Dari semua ini, aku belajar satu hal: hidup bukan tentang menjalani peran dengan sempurna, melainkan tentang menjalaninya dengan penuh kesadaran. Maka aku ingin perlahan mengurangi keluhanku. Aku ingin lebih banyak bersyukur, menikmati waktu demi waktu, dan memanfaatkan setiap kesempatan sebaik mungkin.


Aku tahu, ke depan masih akan ada hari-hari yang melelahkan. Akan ada peran-peran yang saling tarik-menarik, keputusan yang tak selalu mudah, dan doa-doa yang belum langsung terjawab. Namun hari ini, di tempat ini, aku memilih untuk berhenti sejenak.


Menarik napas panjang.
Menitipkan lelah pada Allah.
Dan melanjutkan langkah dengan hati yang lebih tenang.

Semoga aku selalu diingatkan—bahwa di setiap fase hidupku, selalu ada alasan untuk bersyukur. Semoga aku selalu melibatkan Allah di setiap langkahku, dan selalu sadar bahwa aku tidak pernah benar-benar sendiri. Bahkan di saat aku secara fisik sendiri, aku tetap tidak sendiri.


Aku ingin selalu ada ruang di hatiku untuk memahami rencana Allah, terutama ketika rencana itu tidak berjalan sesuai dengan harapanku. Agar rasa syukur ini tidak mudah pudar, dan tidak tergantikan oleh rasa kecewa.


Karena aku yakin, Allah jauh lebih mengerti apa yang terbaik untukku—kapan waktu yang paling tepat, dan bagaimana cara yang paling baik untuk menjadikannya nyata  



Pagaden, 18 Januari 2026

Tanggal asli postingan ini, entah kenapa di blog malah H-1 


@cindhi.nouvie | 2009. Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / A Whole My World

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger