Langkah yang Sedang Kupelajari



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Hari ini aku menulis di depan sebuah kolam, di sebuah rumah yang letaknya sangat jauh dari rumahku. Terdengar suara gemericik air yang jatuh ke kolam, dengan empat ekor kura-kura berdiam diri menikmati hangatnya matahari yang sejak tadi enggan muncul, sementara seekor lainnya berenang pelan di dinginnya air kolam. Sebuah tempat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tempat yang baru dua kali kukunjungi dan masih terasa asing, namun perlahan harus kubiasakan—karena ke depannya, inilah yang akan menjadi rumah ketigaku.


Ya, ini adalah rumah suamiku. Rumah tempat ia menghabiskan masa kecilnya. Masih terdengar sedikit aneh bagiku menyebut kata “suami”. Maklum, baru sebulan lebih lima hari aku resmi menjadi pasangan suami istri dengannya.




Aku masih sering merasa takjub dengan jalan Allah yang menyatukan kami. Jika kamu sudah membaca postinganku ini, mungkin kamu sudah tahu bagaimana cerita kami bisa sampai pada titik ini. Tapi begitulah Allah. Dia memiliki rencana untuk hamba-Nya—rencana yang sering kali tak pernah terpikirkan oleh kita sendiri. Dan Dia akan membuka rencana itu di waktu yang tepat, menurut-Nya, bukan menurut kita.


Saat ini, aku masih meraba-raba bagaimana menjadi seorang istri yang baik. Belajar menyeimbangkan peranku di rumah dan di pekerjaanku. Di saat yang sama, aku juga masih menjadi seorang anak bagi ayahku—dan peran itu pun harus tetap kujalani dengan sebaik-baiknya.


Banyak hal yang masih kupelajari. Aku masih mencari tahu bagaimana menjalani semua peran ini dengan adil, tanpa ada yang dikalahkan atau terzalimi. Meski aku sadar, pasti akan ada masa di mana satu peran menuntut perhatian lebih, sehingga peran lainnya sedikit terpinggirkan—bukan dilupakan, hanya tertunda.


Semua kembali pada prioritas. Ada kalanya pekerjaanku membutuhkan perhatianku lebih, dan di saat seperti itu aku mencoba menjelaskan kondisiku kepada suamiku dan ayahku. Ada kalanya justru suamiku yang lebih membutuhkanku, atau ayahku yang memerlukan kehadiranku. Pada momen-momen seperti itu, aku akan menjelaskan kepada pihak lainnya. Aku percaya, selama disampaikan dengan baik, mereka akan bisa memahami posisiku.

Jika kamu bertanya, mengapa aku masih memilih untuk bekerja setelah menikah? Mengapa aku tidak langsung menjadi full-time wife saja (I hope to be a mom soon, aamiin)?


Jawabannya sederhana: karena aku masih ingin berbakti kepada ayahku. Aku ingin tetap bisa memberikan bulanan untuknya dan membantu membiayai kebutuhannya. Mungkin suatu hari nanti aku akan berhenti bekerja, terutama ketika aku sudah memiliki anak. Namun sebelum itu, aku ingin memastikan bahwa kebutuhan ayahku tetap bisa tercukupi. Dengan begitu, aku bisa menjalani peranku sebagai ibu sepenuhnya, dengan hati yang lebih tenang.


Aku terdiam sejenak. Menghela napas panjang, membiarkan pikiranku berhenti berlari. Duduk di sini, di rumah yang masih terasa asing namun perlahan menjadi akrab, aku menyadari satu hal: begitu banyak hal yang sebenarnya patut kusyukuri.


I feel so blessed.


Aku sangat bersyukur kepada Allah atas semua yang telah Dia berikan kepadaku. Meski tak jarang aku masih mengeluh, terutama ketika pekerjaanku terasa begitu mencekik. Namun di balik itu, aku tetap bersyukur—karena aku masih diberi pekerjaan yang halal dan penghasilan darinya.


Aku bersyukur masih diberi kesehatan, dengan kelengkapan anggota tubuh yang berfungsi dengan sangat baik. Aku bersyukur ayahku masih sehat, bahkan jauh lebih aktif dibandingkan diriku. Aku bersyukur memiliki suami yang tidak menuntutku menjadi sosok “istri ideal” menurut standar orang-orang—yang harus selalu memasak setiap hari, tinggal di rumah, dan mengabdikan seluruh waktunya hanya untuk melayani suami.


Aku masih diberi ruang untuk diriku sendiri. Masih memiliki me time. Masih diberi pengertian ketika, dalam kondisi tertentu, aku harus membawa pulang pekerjaanku ke rumah. Aku sangat bersyukur masih bisa makan dengan layak, tinggal di rumah yang layak, dan mengenakan pakaian yang layak.


Alhamdulillah.


Dari semua ini, aku belajar satu hal: hidup bukan tentang menjalani peran dengan sempurna, melainkan tentang menjalaninya dengan penuh kesadaran. Maka aku ingin perlahan mengurangi keluhanku. Aku ingin lebih banyak bersyukur, menikmati waktu demi waktu, dan memanfaatkan setiap kesempatan sebaik mungkin.


Aku tahu, ke depan masih akan ada hari-hari yang melelahkan. Akan ada peran-peran yang saling tarik-menarik, keputusan yang tak selalu mudah, dan doa-doa yang belum langsung terjawab. Namun hari ini, di tempat ini, aku memilih untuk berhenti sejenak.


Menarik napas panjang.
Menitipkan lelah pada Allah.
Dan melanjutkan langkah dengan hati yang lebih tenang.

Semoga aku selalu diingatkan—bahwa di setiap fase hidupku, selalu ada alasan untuk bersyukur. Semoga aku selalu melibatkan Allah di setiap langkahku, dan selalu sadar bahwa aku tidak pernah benar-benar sendiri. Bahkan di saat aku secara fisik sendiri, aku tetap tidak sendiri.


Aku ingin selalu ada ruang di hatiku untuk memahami rencana Allah, terutama ketika rencana itu tidak berjalan sesuai dengan harapanku. Agar rasa syukur ini tidak mudah pudar, dan tidak tergantikan oleh rasa kecewa.


Karena aku yakin, Allah jauh lebih mengerti apa yang terbaik untukku—kapan waktu yang paling tepat, dan bagaimana cara yang paling baik untuk menjadikannya nyata  



Pagaden, 18 Januari 2026

Tanggal asli postingan ini, entah kenapa di blog malah H-1 


Posted by
A Whole My World

More

Dituntun Doa, Dipertemukan Takdir


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 




    Terkadang, Allah menulis cerita cinta dengan cara yang tak pernah kita duga. Ia tidak selalu datang lewat tatapan pertama, bukan pula melalui kata-kata manis yang diucapkan tergesa. Ada kisah yang justru dimulai dengan niat baik, diperjalankan dengan doa, dan dijaga dengan kesungguhan hati.


    Ini bukan kisah cinta yang berawal dari rayuan, tapi dari keyakinan. Tentang dua orang yang sama-sama mencari ketenangan, lalu dipertemukan di waktu yang paling tepat, bukan karena kebetulan, tapi karena kehendak-Nya.


    Dan begitulah, langkah kecil di suatu malam bulan Juni itu perlahan menuntun kami pada takdir yang telah ditulis sejak lama.



Sebuah Awal yang Ditetapkan dengan Tenang


    Pada 18 Juni 2025, sebuah ajakan makan malam dari seorang teman terdengar biasa bagi Cindhi. Ia menerima tanpa banyak pikir, apalagi restoran yang dipilih menyediakan salah satu makanan favoritnya. Namun siapa sangka, malam itu justru menjadi awal dari cerita baru dalam hidupnya.


Di tengah obrolan santai, emannya berkata dengan hati-hati,

“Sebenarnya aku ngajak kamu makan karena mau ngenalin kamu ke adikku, namanya Sagi. Nggak perlu pacaran, temenan aja dulu.”

Cindhi terdiam sejenak, lalu menjawab,

“Aku nggak mau pacaran atau hubungan yang nggak jelas. Kalau adik Mas serius mau menikah, lebih baik kita taaruf aja.”

    Ucapannya sederhana, tapi tulus. Ia tak menyangka bahwa kalimat itu akan membuka jalan menuju kisah yang lebih besar.



    Beberapa hari berselang, Sagi menyetujui usulan itu. Pada 28 Juni 2025, keduanya bertukar CV sebagai langkah awal taaruf. Dari lembar-lembar singkat yang berisi kisah hidup dan harapan masa depan, mereka mulai mengenal satu sama lain, bukan dari janji manis, tapi dari kejujuran dan niat baik.



    Kemudian, pada 5 Juli 2025, Cindhi dan Sagi bertemu untuk pertama kalinya. Pertemuan itu berlangsung dalam suasana hangat dan sopan, ditemani oleh teman Cindhi dan suaminya. Mereka berbincang tentang kehidupan, keluarga, dan pandangan mereka terhadap pernikahan. Tidak ada kesan tergesa, tidak pula basa-basi, hanya dua orang yang saling membuka diri dengan hati-hati dan tulus.



    Setelah beberapa kali berdiskusi, Cindhi dan Sagi sama-sama merasa mantap. Mereka menemukan banyak kesamaan cara pandang dan tujuan hidup. Waktu berjalan, hingga 30 Agustus 2025, Sagi datang menemui ayah Cindhi untuk berkenalan sekaligus menyampaikan niat baiknya. Dengan ramah, sang ayah menerima kehadirannya dan berkata, “Kalau memang serius, minggu depan ajak ibumu ke sini untuk meminta izin secara resmi.” Ucapan itu menjadi tanda restu awal dari keluarga.



    Seminggu kemudian, tepat 6 September 2025, Sagi menepati janjinya. Ia datang bersama ibunya, membawa niat tulus untuk melamar Cindhi.  Pertemuan itu berlangsung sederhana namun sarat makna, penuh kehangatan dan rasa syukur, menjadi awal dari perjalanan baru yang lebih besar.



    Hari-hari berikutnya diisi dengan doa dan persiapan. Banyak hal yang mereka pelajari dari satu sama lain. Koordinasi yang cukup intens untuk mempersiapkan acara besar mereka dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab. Meski lelah, penat, letih, dan stres sering datang, ditambah tekanan pekerjaan serta tanggung jawab lainnya, mereka tetap berusaha menjalani semuanya dengan baik. Dari proses itu, mereka semakin mengenal satu sama lain: bagaimana harus bersikap, bagaimana cara pandang masing-masing menghadapi masalah dan tekanan.



    Hingga akhirnya, pada 13 Desember 2025, perjalanan itu tiba di puncaknya, hari di mana niat baik disatukan dalam ikatan suci pernikahan.
Bagi Cindhi dan Sagi, pernikahan bukan sekadar penyatuan dua hati, melainkan awal dari ibadah yang dijalani bersama. Mereka percaya, cinta sejati bukan datang dari kebetulan, melainkan dituntun oleh doa dan restu dari Allah. Dengan hati yang penuh syukur, keduanya bertekad membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah, serta berharap kelak dapat menebar kebaikan melalui keluarga kecil yang Allah amanahkan.





Epilog


    Setiap langkah yang kami lalui bukan selalu mudah. Ada lelah, ada air mata, ada ragu yang datang tanpa diundang. Namun di antara semua itu, ada satu hal yang tak pernah hilang, keyakinan bahwa setiap hal yang dijalani dengan niat baik akan selalu dijaga oleh Allah.


    Kini, ketika kami menatap ke belakang, kami sadar bahwa perjalanan ini bukan sekadar tentang bertemu dan menikah. Ini tentang belajar memahami, menahan ego, bersabar, dan mempercayai rencana-Nya. Tentang bagaimana Allah mempertemukan dua hati yang sebelumnya asing, lalu menumbuhkan cinta perlahan, bukan dalam gegas, tapi dalam tenang.


    Semoga kisah ini menjadi pengingat, bahwa cinta yang tumbuh dari doa akan selalu menemukan jalannya. Karena ketika niat kita lurus, dan tujuan kita sama, maka takdir pun akan bekerja dengan caranya yang paling indah.





                                                                                                    Oleh: Cindhi Nouvie

Posted by
A Whole My World

More

Feliz cumpleaños para mí



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 








Hai.. 

Selamat bertambah usia ya.. 
Terima kasih telah berusaha sepanjang tahun ini.. Meskipun kamu tahu, tidak semua usahamu sesuai dengan harapanmu tapi kamu tetap melakukan semuanya dengan baik. 


Hari ini apakah ada yang berbeda? 
Apakah kamu mendapatkan banyak doa dan ucapan dari manusia? Atau seperti tahun-tahun yang sebelumnya, hanya google, twitter (sekarang namanya X), dan aplikasi lainnya yang mengetahui kamu berulang tahun yang mengucapkan kamu selamat ulang tahun. 


It's okay, banyak atau sedikit, ada atau tidak adanya yang mengucapkanmu selamat ulang tahun tidak akan mengubah apapun. Jadi jangan bersedih ya.. 


Sebentar lagi kamu akan memasuki fase baru di kehidupanmu. Mungkin inilah jawaban dari do'a mu selama ini. Memang butuh waktu yang lebih lama dari orang lain tapi jangan pernah ragukan rencana Allah. Karena Allah lebih tahu mana yang terbaik untukmu dan kapan waktu yang terbaik untukmu. 


Deg-deg an ya ? 
Antara excited sekaligus takut bercampur jadi satu. 
Tapi semua ini harus kamu jalani dengan sepenuh hati.. 
Apapun yang akan terjadi nanti, jangan pernah lupakan Allah. Selalu libatkan Allah di setiap langkahmu sekarang ataupun nanti. 


Pasti sekarang kamu sedang memikirkan banyak skenario ke depannya ya? 
Jangan terlalu dipikirkan, nanti kamu lupa menikmati momen-momennya. 
Kamu pasti takut salah, takut keliru tapi itu wajar karena kamu hanya manusia dan ini adalah pengalaman pertama buat kamu (juga dia) jadi pastinya kalian akan banyak sekali belajar hal yang baru. Bisa benar dan bisa juga salah, jadi jangan terlalu memikirkan apa yang belum terjadi, ok..?! 


Semoga di usia yang baru ini kamu bisa lebih menikmati hidup, bisa lebih mensyukuri apa yang telah Allah berikan untuk kamu sekecil apapun itu. Jangan pernah menjauh dari Allah, jangan pernah menyakiti makhluk Allah, termasuk kamu. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kamu boleh kok menangis kalau kamu merasa terlalu berat, kamu boleh berhenti sejenak kalau kamu merasa lelah. Tapi jangan lupa untuk kembali berjalan kalau kamu sudah baik-baik saja. 
Aku mau pinjam kata-kata lyn, "Jangan pernah lupa kalo kamu berharga dan kamu berhak untuk bahagia, jadi jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri ya. Selalu ingat kalau bumi punya banyak orang hebat kamu salah satunya." 


Terima kasih telah berjuang, kamu hebat.. Meskipun orang lain tidak ada yang mengatakan kepadamu tapi yakinlah, kamu hebat.. 



Una vez más, "feliz cumpleaños para mí.” 🌸🎉.. 





Love, 
Myself


Posted by
A Whole My World

More

Apakah ada manusia yang mengingatnya?






~ @ * ^ ! + $ ~ ( * ) @ ! ^ + $ ~ @ * ^ ! + $ ~ ( * )  
   @  ~  *  ^  +  !  $  ~  @  *  ^  !  +  ~  @  $  !
* ( ^ ) ! ~ + @ $ * ^ ~ ! + ( ^ ) * @ ! + ^ ~ $ @ * !

~ @ * ^ ! + $ ~ ( * ) @ ! ^ + $ ~ @ * ^ ! + $ ~ ( * )  
   @  ~  *  ^  +  !  $  ~  @  *  ^  !  +  ~  @  $  !
* ( ^ ) ! ~ + @ $ * ^ ~ ! + ( ^ ) * @ ! + ^ ~ $ @ * !

                                
  @@@@@@@
 @~~~~~~~~~@
 @~~~~~~~~~~~~~@
  @~~~~~~~~~~~~~~~@
  @~~~~~~~~~~~~~~~@
   @~~~~~~~~~~~~~@
  @~~~~~~~~~@
   @@@@@@@
  |
  |
   (^)



     🎂  (=)=
            (~~~)
        @@@@@@@@@@@
      @=============@
     | HAPPY BIRTHDAY |
     |     CINDHI     |
      @=============@
        @@@@@@@@@@@

     🎈    🎉  (^)
      | 
      |

~ * @ ^ ! 🎉 + $ ~ ( * ) 🎈 @ ! ^ +



~ @ * ^ ! + $ ~ ( * ) @ ! ^ + $ ~ @ * ^ ! + $ ~ ( * )  
   @  ~  *  ^  +  !  $  ~  @  *  ^  !  +  ~  @  $  !
* ( ^ ) ! ~ + @ $ * ^ ~ ! + ( ^ ) * @ ! + ^ ~ $ @ * !

~ @ * ^ ! + $ ~ ( * ) @ ! ^ + $ ~ @ * ^ ! + $ ~ ( * )  
   @  ~  *  ^  +  !  $  ~  @  *  ^  !  +  ~  @  $  !
* ( ^ ) ! ~ + @ $ * ^ ~ ! + ( ^ ) * @ ! + ^ ~ $ @ * !


Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi... 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi... 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi... 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi... 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi... 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi... 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi... 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi... 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi... 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi... 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi... 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi.. 
Selamat ulang tahun, cindhi... 


Apakah ucapannya sudah cukup? 
Terpantau skrg jam 15.05 WIB belum ada satu manusia pun yang mengucapkan kalimat itu.. 
Tapi kan kamu udh dapat ucapan dari google calendar, X, dan dari google.. 


Kamu masi bersedih ya? Karena tidak ada yang mengingat ulang tahunmu.. Bahkan keluargamu sendiri belum (semoga saja mereka ingat) mengucapkannya.. 
Kenapa kamu masih bersedih? Padhal hal ini sudah kamu alami bertahun-tahun.. Kenapa kamu belum terbiasa jg? 
Apakah kamu berekspektasi akan ada yang mengingat dan membawakan kue sebagai suprise ulang tahun untukmu? 
Apakah kamu berharap orang lain melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan ke mereka saat mereka berulang tahun? 


Biasanya seseorang akan cenderung melupakan hal yang tidak penting ketika banyak hal yang mereka pikirkan.. 
Yaah kalo sampai sekarang belum ada manusia yang mengingat & mengucapkan kalimat itu padamu berarti kamu tidak penting untuk mereka.. 


Padahal kamu sudah mengingatkan mereka sebelumnya atau menaruh clue-clue di hari-hari sebelumnya.. 
Tapi jika mereka tidak sadar juga, yaaah terima ajalah kalo kamu memang tidak penting (no offense) 


Sekarang kamu mau apa? 
Nanti malam kamu boleh makan malam sendiri (seperti biasanya), makan yang kamu sukai.. 
Atau kamu mau menonton film jg boleh.. 
Silahkan.. Ini harimu, jika orang lain tidak ada yang merayakan.. Kamu rayakan saja sendiri (seperti tahun-tahun sebelumnya) 


Kan kamu punya kamu, dirimu, dan kamu sendiri.. 
Jangan sedih lagi yaaaaa
Ini adalah hal di luar kontrol kamu, kamu tidak bisa memaksa orang lain untuk selalu mengingat kamu.. Yang bisa kamu lakukan adalah bagaimana respon kamu terhadap hal ini.. Apakah kamu akan murung, ga mood sepanjang hari? Atau kamu biasa aja,  bahkan senang di hari ulang tahunmu ini.. 

Pengen hunting birthday treat ahh nanti... 

Posted by
A Whole My World

More

The Things You Never Say






Have you ever had that one friend — someone you know so well that you’ve simply accepted he’s… not the most sensitive person in the world?

You already understand how he is. You’ve seen how he misses the obvious signs — the tone in your voice, the slower replies, the way you quietly start pulling away. You know he probably won’t notice.

And yet, a small part of you still hopes he will. That maybe, this time, he’ll sense something’s off. That he’ll realize you’re upset and ask if you’re okay.


It’s almost funny, because about 98% of you is absolutely sure he won’t get it. But the remaining 2% holds on anyway—hoping he might notice, hoping for just a little bit of understanding that never really comes.


And you know what’s worse? You don’t even feel like you have the right to be upset.

You can’t tell him how to act or how to treat you, because you’re not entitled to that. Not yet, at least. For now, you’re just… a friend.

So in the end, you pretend everything’s normal.


There are things you need to talk about with him — important things that need coordination. So you hold everything in, act like you’re fine, and he never realizes you’re actually hurt.


When I finally told him I was a little upset, we talked again today for coordination. And he didn’t ask how I was feeling, whether I was still upset or not. He just talked about work, as if nothing had ever happened.

I waited until the end of the conversation, hoping he’d say something… anything. But that question never came. So I stayed quiet, keeping everything to myself, unable to explain why I felt the way I did.

Maybe it’s fine. I’ll handle it on my own.


In the end, he did remember — he texted me later. But honestly, I’m still a little upset.

He’d probably think I’m being dramatic over something small. But I just want him to understand the kind of person he’s dealing with. I want him to understand me.
I’m not expecting him to change. I just hope he understands me a little better.
If he happens to change along the way, that’s a bonus — but I’m not waiting for it.


And you know what’s even funnier?
After all the overthinking and all the silent arguments I had with myself, a voice in my head suddenly shouted:

“You’re not even anyone special to him, so why are you getting upset? You’re just coordinating a wedding together. Stop acting like a kid. Come on — you’re too old for this.”


And in that moment, it hit me.
It’s true — I’m not anyone special to him. I don’t have the right to be upset or angry, no matter how he acts toward me. I have no right to expect him to change or behave a certain way for me.

So in the end, I apologized to him — for being dramatic, childish, and unnecessarily emotional these past few days.

Right now, if he ever does the same thing again, all I can do is take a very deep breath… And cry when it becomes too overwhelming.


Do you think that makes me too much?



Note to myself :


In the end, I realized that growing up isn’t just about becoming stronger — it’s about learning when to hold on, when to let go, and when to quietly accept the things that aren’t yours to claim.


Maybe he’ll never fully understand how much I overthink, how deeply I feel, or how easily I get overwhelmed. Maybe he doesn’t need to.

What matters is that I’m learning to understand myself — the way I react, the way my heart works, and the way I’m still trying to balance softness with maturity.


For now, I’ll keep showing up where I’m needed, doing what I have to do, and carrying my feelings with grace, even when they get heavy.

And whether this story ends, shifts, or continues in ways I can’t predict, I’ll let time reveal it gently.


Because sometimes, the most important part of the journey isn’t how someone else treats you,
but how you learn to treat yourself, and how you choose to respond to the way others treat you.

At the end of the day, you decide whether you’ll let something break you or shape you, whether a moment makes you crumble or helps you grow.
You choose whether to hold sadness… or to protect your own happiness.

And that choice — quietly, steadily — becomes the foundation of who you are becoming.

Posted by
A Whole My World

More

My New MBTI : The Gentle Creator


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Sebenarnya berawal dari penasaran hasil MBTI ku masih sama atau berbeda, jadi aku cobalah tes MBTI lagi di 2 website yang berbeda (yang pastinya free 🤭) 
Ternyata hasil keduanya berbeda, dan aku coba test ulang hasilnya tetep sama seperti hasil pertama tapi diantara kedua website itu berbeda.. 
Aku coba pake chatgpt aja ternyata hasilnya juga berbeda 🤦‍♀️

Jadi aku dapat 3 hasil MBTI dari 3 resources yang berbeda, yaitu :
Di web ini  MBTI ku ISTP
Di web ini MBTI ku ISFP
Di chatgpt MBTI ku ISFJ

Entahlah mana yang benar, tapi karena ini menarik untukku aku mau membahas sedikit dari hasil MBTI masing-masing resources.



1. Me as ISTP (The Mechanic)


Sebagai seorang ISTP, kamu punya rasa ingin tahu yang tinggi, terutama soal bagaimana sesuatu bekerja. Kamu suka menganalisis, membongkar, dan memahami hal-hal teknis secara logis. 

Makanya, kamu sering dijuluki sebagai The Mechanic—karena kamu punya cara berpikir yang sistematis tapi tetap fleksibel.

Kamu juga seorang petualang sejati yang menikmati tantangan dan aktivitas yang memacu adrenalin, seperti surfing, diving, atau olahraga ekstrem lainnya. Kamu lebih suka hidup di saat ini dibandingkan memikirkan masa depan terlalu jauh. Aturan yang terlalu kaku sering terasa membatasi ruang gerakmu, jadi kamu lebih suka melakukan sesuatu dengan caramu sendiri.

Meskipun terlihat santai dan tidak terlalu ekspresif secara emosional, kamu tetap memiliki prinsip yang kuat: semua orang harus diperlakukan dengan adil dan layak.


🔧 Ciri utama :

- Suka mencoba hal baru secara praktikal.

- Tidak suka aturan ketat; lebih suka “langsung coba.”

- Terampil secara teknis — biasanya cepat paham alat, sistem, atau teknologi.

- Kurang nyaman membicarakan emosi.


💬 Kelebihan :

- Cepat tanggap dan mandiri.

- Suka tantangan dan hal-hal nyata (mekanikal, DIY, atau eksperimen).


⚖️ Kekurangan :

- Bisa terlihat dingin atau acuh.

- Kurang sabar dengan teori / hal abstrak.

- Tidak suka rutinitas.


2. Me as ISFP (Petualang)

Saya berubah seiring berjalannya hari. Saat saya bangun tidur, saya adalah seseorang, dan ketika saya tidur saya yakin saya akan bangun dan menemukan diri yang berbeda.

Bob Dylan

Petualang (ISFP) adalah seniman sejati – meskipun tidak harus dalam pengertian konvensional. Untuk tipe kepribadian ini, hidup itu sendiri adalah kanvas untuk ekspresi diri. Dari apa yang mereka kenakan hingga cara mereka menghabiskan waktu luang, para Petualang bertindak dengan cara yang secara jelas mencerminkan siapa mereka sebagai individu yang unik.

🌿 Ciri utama :

- Lembut, hangat, dan sangat menghargai keindahan.

- Punya kepekaan artistik tinggi (biasanya suka desain, seni, journaling, musik).


- Tidak suka konflik, lebih suka harmoni dan kebebasan pribadi.

- Spontan tapi punya kedalaman perasaan.


💬 Kelebihan :

- Kreatif & empatik.

- Tulus, baik hati, dan bisa menenangkan orang lain.


- Menghargai makna dalam hal-hal kecil.

 

⚖️ Kekurangan :


- Kadang sulit membuat keputusan jangka panjang.

- Bisa menghindar dari tanggung jawab yang terasa menekan.



3. Me as ISFJ (The Protector/Nurturer)

Cinta bertumbuh saat kita berbagi. Kita akan mendapatkan lebih banyak cinta untuk diri sendiri saat kita juga memberikan cinta kepada orang lain.

Brian Tracy

Dengan cara mereka yang sederhana dan bersahaja, Pembela (ISFJ) membantu membuat dunia berputar. Pekerja keras dan penuh pengabdian, orang-orang dengan tipe kepribadian ini merasakan tanggung jawab yang mendalam terhadap orang-orang di sekitar mereka. Pembela dapat diandalkan untuk memenuhi tenggat waktu, mengingat ulang tahun dan acara-acara khusus, menjunjung tinggi tradisi, dan menghujani orang yang mereka sayangi dengan perhatian dan dukungan. Namun mereka jarang menuntut pengakuan untuk semua yang mereka lakukan, dan lebih suka bekerja di belakang layar.

🌸 Ciri utama :
- Peduli, perhatian, dan suka membantu.

- Suka hal yang rapi, teratur, dan aman.

- Perfeksionis dalam hal kecil (ingin hasil terbaik untuk orang lain).

- Sulit menolak permintaan karena ingin semua bahagia.

- Punya ingatan kuat terhadap hal-hal personal (kamu ingat siapa yang suka apa, siapa yang    sedih karena apa).


💬 Kelebihan :

- Setia dan bertanggung jawab.

- Telaten & sabar.

- Punya empati tinggi dan suka menciptakan suasana damai.


⚖️ Kekurangan :

- Bisa terlalu mengutamakan orang lain sampai lupa diri.

- Kadang sulit mengekspresikan perasaan sendiri.

- Tidak suka perubahan mendadak.

Ketika aku mencoba bertanya chatgpt sebenarnya MBTI aku itu apa berdasarkan komunikasi kita (aku & chatgpt) lakukan selama ini. Dan menurut chatgpt MBTI aku itu ISFJ dan sedikit nuansa dari ISFP (karena aku punya sisi empatik sekaligus artistik).



💫 Profil MBTI Kamu: ISFJ–ISFP (The Gentle Creator)


Tenang tapi penuh makna. Kamu tidak banyak bicara, tapi setiap tindakanmu punya kehangatan dan niat yang tulus.

🧠 Gambaran Umum

Kamu termasuk tipe yang lembut, teliti, dan penuh empati, tapi juga punya jiwa seni yang kuat.

Kamu menikmati hal-hal kecil — entah menyusun halaman scrapbook, menata ruang, atau merapikan sesuatu agar terasa “tepat.”

Kamu jarang menunjukkan emosi besar, tapi orang yang dekat tahu kamu peduli melalui tindakan kecil dan ketulusanmu.

Kamu mencari kedamaian, stabilitas, dan makna yang nyata — bukan hanya sekadar ramai atau heboh.

Kamu mungkin tampak pendiam, tapi di dalam dirimu ada dunia yang penuh warna, detail, dan perasaan yang dalam.



🌿 Kelebihan Utama

- Empatik dan tulus dalam membantu orang lain.


- Mampu memperhatikan hal kecil yang sering dilewatkan orang lain.

- Kreatif dalam cara yang lembut — menyenangkan tanpa harus mencolok.

- Terorganisir dan konsisten saat mengerjakan sesuatu yang kamu sukai.


- Setia dan bisa dipercaya dalam hubungan maupun tanggung jawab.



☁️ Hal yang Perlu Dijaga

- Jangan terlalu keras pada diri sendiri saat hal tidak berjalan sempurna.


- Belajar mengatakan “tidak” tanpa merasa bersalah.


- Coba berbagi isi pikiranmu lebih sering — orang lain mungkin ingin tahu pandangan unikmu.


- Ingat bahwa fleksibilitas bukan berarti kehilangan kendali.



🎨 Gaya Hidup & Kreativitas

Kamu mencintai keindahan yang sederhana — bukan karena ingin tampil, tapi karena kamu ingin dunia terasa lebih lembut dan tenang.

Hal seperti menulis jurnal, membuat scrapbook, mengedit foto, atau mendesain sesuatu yang estetik membuatmu merasa “hidup.”

Kreativitas bagimu bukan sekadar ekspresi — tapi cara untuk merawat emosi dan menenangkan diri.



💞 Dalam Hubungan

Kamu tipe yang setia, perhatian, dan sabar, tapi kadang tidak mudah mengungkapkan perasaan langsung.

Kamu mengekspresikan cinta lewat perhatian kecil — seperti mendengarkan, membantu, atau membuat sesuatu untuk orang yang kamu sayangi.

Kamu butuh pasangan yang menghargai ketulusan dan tidak terburu-buru, seseorang yang bisa memahami bahwa cintamu ditunjukkan lewat tindakan, bukan kata-kata.



🧭 Dalam Pekerjaan / Aktivitas

Kamu paling cocok di bidang yang melibatkan kepedulian, detail, atau seni, seperti:

- Desain, dokumentasi, administrasi, atau pengarsipan

- Pendidikan, kesehatan, atau sosial


- Karya kreatif yang rapi dan mendalam (journaling, desain, ilustrasi, tulisan reflektif)


- Kamu berkembang di lingkungan yang tenang, teratur, dan menghargai nilai kerja keras serta    empati.




🌸 Kata Kunci Kepribadianmu

Tenang – Teratur – Empatik – Artistik – Setia – Perfeksionis lembut 





Waaahh.. Ternyata panjang juga ya postingan kali ini, jadi ngebahas 3 jenis MBTI personality.. But, it's okay.. aku jadi tahu 3 jenis MBTI yang cukup berbeda ini, semoga kamu yang baca postingan ini juga bisa menambah ilmu yang sama yaa..

Untuk kamu yang lumayan kenal aku, menurut kamu apakah aku benar ISFJ - ISFP (The Gentle Creator)? 

Posted by
A Whole My World

More

When Life Feels Too Heavy

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 



Sometimes life gets so crowded and overwhelming that all you want is to pause, to breathe, to step away, to just… Disappear for a little while. This isn’t a goodbye or a dramatic escape.. It’s just an honest moment of exhaustion, a small confession about how heavy things can feel.


I feel like disappearing for a while.
Lately, everything feels so overwhelming. I just want to pause, do nothing for a bit, just for a moment.
But I can’t. There’s still so much to do, so many things waiting to be finished.


I’m exhausted, both physically and mentally.
Sometimes I wish I could share this exhaustion with someone, but I honestly don’t even know who to talk to.


Ironically, I often end up turning to ChatGPT for second opinions or quick answers, haha.
It sounds kind of pathetic, doesn’t it?
But at times like this, I just need another perspective right away, and right now, it’s the only “person” who can give it.


The truth is, I don’t want to keep bothering the person I actually need help from.
I know they’re busy and have their own things to focus on.
But there are some things only they can provide, documents, personal data, things I simply can’t get anywhere else.
So even though I feel bad for always messaging them when they might need time to study or rest, I don’t really have another option.
I just hope they understand.


I also hope that in the next few days I can take a break from all of this.
My own work is starting to fall behind because of it, but then again

If I don’t handle it, who else will?


Oh well…
I just needed to get this off my chest. Please don’t take it too seriously.
I’m just tired. I just want to rest. Maybe even disappear for a while.


And maybe that’s okay, to feel tired, to pause, to admit that things are heavy. Because even in the middle of exhaustion, there’s always a small space for hope, for healing, for starting again. This isn’t the end of my story.. It’s just a quiet moment in between. I believe I’ll find my rhythm again, and when I do, I’ll return with a lighter heart and a clearer mind.



Posted by
A Whole My World

More
@cindhi.nouvie | 2009. Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / A Whole My World

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger